Detail

ARTICLE

Date 2024-07-02
Title Guru dan Upaya Mengatasi Dampak Negatif "Artificial Intelligence"
Content HONG KONG, KOMPAS.com - Keberadaan artificial intelligence (AI) di dunia pendidikan menuntut para tenaga pengajar untuk meningkatkan kemampuan diri. Tidak hanya didorong bisa menggunakan ai demi mempermudah pekerjaan teknis atau administratif, seorang guru juga dituntut untuk mengetahui seluk beluknya demi mengantisipasi penyalahgunaan oleh peserta didik. Guru-guru di SMA Kalam Kudus Bandung contohnya. Mereka telah kerjasama dengan salah satu perguruan tinggi dalam konteks peningkatan kapasitas guru soal seluk beluk AI. Baca juga: Bahas AI dalam Pembelajaran Berbasis Google, REFO Gelar GSIS 2024 "Kami diberikan tips dan cara bagaimana menghadapi dampak buruk AI pada anak didik. Salah satunya saat mereka memakai ai untuk tugas-tugas," ujar Kepala Sekolah SMA Kalam Kudus Bandung Kristanto saat berbincang dengan Kompas.com di sela kegiatan Bina Nusantara University di Hong Kong, Jumat (28/6/2024). Para guru dibekali cara mengoperasikan aplikasi yang mampu memverifikasi hasil karya anak didik, apakah itu merupakan hasil jerih payah sendiri atau si anak didik bertindak curang dengan membuatnya menggunakan ai. "Bahkan, untuk hasil karya seni berupa gambar itu bisa dibedakan validitasnya, apakah anak ini plagiarisme, pakai AI, atau hasil karya sendiri," lanjut dia. Program peningkatan kapasitas guru yang telah dilakukan dalam dua tahun terakhir, menurut Kristanto, sangat efektif. Sebanyak 80 persen guru telah menguasainya. Hal senada diungkapkan Yohanes Baptista Damar Wicaksono, Guru Bimbingan Konseling (BK) SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Guru memiliki kemampuan mengenali muridnya. Apabila ada sesuatu yang berbeda pada murid itu, pasti guru bisa merasakannya. Begitu pula ketika seorang murid tiba-tiba menghasilkan karya yang di luar biasanya. Baca juga: Beasiswa S1 ke Hong Kong Dibuka, Pelajar Indonesia Segera Daftar Hal ini yang menjadi dasar bagi guru untuk memastikan apakah karya itu hasil jerih payah, plagiarisme, atau menggunakan bantuan AI. "Tapi kami enggak langsung menjudge dia. Guru mata pelajaran biasanya memanggil anaknya dulu. Ditanya dari hati ke hati. Lalu dilanjutkan ke wawancara dengan romo pamong. Orangtua juga kami panggil," ujar Damar. Apabila bidang kesiswaan memutuskan bahwa si anak benar-benar bersalah, maka akan langsung diberikan surat peringatan kedua. Si anak memiliki satu kesempatan lagi sebelum dikeluarkan dari sekolah. Menurut Damar, peningkatan kapasitas guru soal ai memang harus diimbangi dengan kemampuan berkomunikasi lebih dalam dengan anak didik. Dengan begitu, fungsi pendidikan akan benar-benar terlaksana. Kepala Sekolah SMA Santa Maria I Bandung Markus Sentot Sunardjo menambahkan, dampak buruk ai tak semestinya membuat institusi pendidikan anti terhadap ai. Di sekolahnya, ia memperbolehkan anak didik menggunakan AI. "Tapi, hanya untuk menjadi pembanding dan referensi, bukan untuk hasil supaya mudah, enggak," ujar Sentot. Baca juga: ITB Buka Pendaftaran Beasiswa S2-S3 2024, Bebas Biaya Kuliah
Tags guru, sekolah, artificial intelegence, AI
URL https://www.kompas.com/edu/read/2024/07/02/144043771/guru-dan-upaya-mengatasi-dampak-negatif-artificial-intelligence